A. SISTEM SEL SARAF
1. Neuron
dan Glia
Neuron berfungsi menerima informasi dan mengirimkannya ke sel lain, sedangkan dulu ya berfungsi sebagai pendukung kerja sel saraf.
Struktur
Sel Hewan
·
membran atau membran plasma, struktur yang
memisahkan bagian dalam sel dan luar.
·
nukleus (dimiliki oleh semua hewan,
kecuali mamalia), struktur yang mengatur dan mengendalikan aktivitas
metabolisme dalam sel.
·
mitokondria, struktur yang melakukan
aktivitas metabolisme dan menyediakan energi yang digunakan untuk sel.
·
ribosom, struktur yang merupakan sebagai
tempat sintesis dan membuat protein dari semua asam amino.
·
retikulum endoplasma, berfungsi untuk
mengangkut protein yang baru disintesis ke tempat lain.
Struktur
Neuron
·
badan sel, berfungsi menerima rangsangan
dari dendrit kemudian meneruskan rangsangan tersebut ke akson.
·
dendrit, berfungsi untuk menerima dan
menghantarkan rangsangan dari badan sel.
·
akson (neurit), bertugas mengantarkan
impuls dari badan sel menuju efektor seperti sel otot atau sel kelenjar.
·
selaput mielin, melindungi sel saraf dari
kerusakan dan mencegah bocornya impuls.
·
sel schwaan, berguna untuk mempercepat
jalannya impuls dan menyediakan nutrisi bagi neuri.
·
nodus ranvier, sebagai loncatan impuls
saraf agar cepat sampai ke tempat tujuan.
·
sinapsis, menyediakan koneksi antar neuron
sehingga memungkinkan terjadinya pertukaran informasi antar neuron tersebut.
Variasi
Neuron
Neuron
mempunyai variasi dalam berbagai ukuran, bentuk, dan fungsi. Variasi tersebut
menentukan hubungan neuron dengan yang lain serta menentukan fungsinya.
Misalnya saja dendrit purkinje yang bercabang banyak di otak memungkinkan untuk
menerima input hingga 200.000 neuron. Sebaliknya, nelpon bipolar di retina yang
memiliki cabang pendek menerima beberapa input dari beberapa sel.
Glia
video mengenai glia
Merupakan
komponen lain dari sistem saraf dan melakukan banyak fungsi. Jumlah glia
melebihi jumlah neuron pada korteks otak, namun secara keseluruhan jumlahnya
hampir sama. Struktur yang ada pada sel glia secara umum terbagi atas empat
macam:
a. Sel
glia yang mendominasi sistem saraf pusat atau sumsum tulang belakang dan otak,
seperti:
· mikroglia, sel kecil yang bereaksi sebagai
fagosit dan juga dapat membersihkan komponen-komponen yang bisa mengancam
sistem saraf.
· oligodendrosit, sel yang memiliki peran
dalam membentuk selubung mielin untuk sistem saraf pusat.
· astrosit, berfungsi untuk menyatukan antar
neuron dan berperan dalam aktivitas neutransmitter serta perbaikan untuk cedera
otak.
· sel ependim, berperan sebagai prekursor
untuk sel saraf bawah otak dewasa serta melindungi medula spinalis.
b. Sel
glia yang mendominasi sel saraf tepi, seperti:
· sel schwan, sel yang mempunyai fungsi
sebagai pembentuk selubung mielin sel saraf.
2. Penghalang
Darah-Otak (Blood Brain Barrier/BBB)
Blood
Brain barrier berfungsi sebagai penjaga sistem pertahanan dan homeostatis otak.
Endotelial BBB dengan segala keunikannya mampu mencegah masuknya zat asing dan
patogen ke dalam jaringan otak. Ketika tubuh dehidrasi, kekurangan oksigen atau
dalam kondisi puasa, BBB melakukan pengaturan sedemikian rupa sehingga
komposisi zat esensial penunjang fungsi otak tetap pada pajak jumlah yang
optimal.
BBB
bergantung pada sel-sel endoterm yang membentuk dinding kapiler. Di luar otak
sel-sel tersebut dipisahkan oleh celah kecil, namun di dalam otak sel-sel
tersebut dapat memblokir virus, bakteri, dan bahan kimia berbahaya lainnya dari
saluran.
3. Makanan
Vertebrata Neuron
Sebagian
besar sel menggunakan berbagai karbohidrat dan lemak untuk nutrisi, tetapi
neuron vertebrata bergantung pada glukosa. Karena metabolisme glukosa
membutuhkan oksigen, maka yang akan pun membutuhkan pasokan Oksigen yang
stabil. Untuk menggunakan glukosa tubuh membutuhkan vitamin B1 yaitu tiamina.
Kekurangan tiamina dalam waktu lama menyebabkan kematian neuron dan suatu
kondisi yang disebut sindrom korsakof yang ditandai dengan gangguan memori yang
parah.
B.
IMPULS SARAF
1. Potensi Istirahat Neuron
Pesan dalam sebuah jawaban
dihasilkan dari potensi istilah dari neuron tersebut. Saat istirahat membran
mempertahankan listrik Gradien yang juga dikenal sebagai polarisasi, perbedaan
dalam muatan elektrik antara bagian dalam dan luar sel. Perbedaan dari tegangan
tersebut disebut potensial istirahat.
Ketika membran neuron
dalam keadaan istirahat, bagian dalam sel memiliki muatan yang lebih negatif
dibandingkan dengan bagian luar. Biasanya, dalam keadaan ini, membran memiliki
tegangan mendekati -70 mikrovolt (mV). Artinya, bagian dalam neuron lebih kecil
70 mV dari bagian luar, meskipun harus disebutkan bahwa tegangan ini dapat
bervariasi, antara -30 mV dan -90 mV. Juga, saat ini ada lebih banyak ion
natrium (Na) di luar neuron dan lebih banyak ion kalium (K) di dalamnya.
Mengapa potensi istirahat
dibutuhkan? Tubuh menginvestasikan banyak energi untuk mengoperasikan natrium
kalium yang mempertahankan potensial istirahat. Potensial istirahat
mempersiapkan jawaban merespon dengan cepat sehingga eksitasi melakukan membuka
saluran yang memungkinkan natrium untuk memasuki sel dengan cepat pula. Membran
melakukan tugasnya terlebih dahulu dengan mempertahankan gradien konsentrasi
natrium sehingga sel pun dapat dipersiapkan merespon rangsangan dengan penuh
tenaga.
2. Potensial
aksi
video potensial aksi
Merupakan aliran ionik positif dan negatif yang bergerak di dalam membran sel. Tahap dalam potensial aksi terbagi atas:
a) Tahap
polarisasi
Merupakan tahapan potensial membran
istirahat sebelum adanya potensial aksi. Pada membran negatif sebesar -900 mV.
b) Tahap
depolarisasi
Dimulai dari satu titik dipertemukan
membran dan akan merambat ke seluruh permukaan membran. Pada tahap ini membran
sangat permeabel reaktif terhadap ion Na dan kanal Na+ terbuka dan masuk ke
dalam sehingga potensial membran meningkat dan mengakibatkan terjadinya
overshoot jika potensial berada di atas 0.
c) Tahap
repolarisasi
Diawali dari suatu titik dan merambat ke
seluruh permukaan membran sel. Bila seluruh membran sel sudah bermuatan negatif
di sisi dalam, maka dikatakan sel dalam keadaan istirahat atau keadaan
polarisasi kembali dan siap untuk menerima rangsangan berikutnya.
3. Propagasi
potensial aksi
Merupakan aliran ionik
positif dan negatif yang bergerak di membran sel. Langkah awal pengelolaan
informasi Indra adalah transformasi energi stimulus menjadi potensial reseptor,
lalu menjadi potensial aksi pada serabut saraf.
4. Selubung
mielin dan konduksi saltatory
Potensial aksi terjadi
melalui konduksi ion Na+ sign dan ion K+ di sepanjang akson. Saat terjadinya
rangsangan, impuls akan dihantarkan sepanjang akson melalui perpindahan ion-ion
tersebut. Di sepanjang akson terdapat pompa ion yang akan terbuka saat ada
rangsangan, terbukanya pompa ini menyebabkan ion dari cairan ekstraseluler
dapat masuk ke dalam cairan intraseluler maupun sebaliknya. Konduksi ion
tersebut dapat terjadi di membran akson yang tidak ditutupi oleh selubung
mielin. Pada saraf yang aksonnya dilapisi oleh selubung mielin terjadi konduksi
saltatori. Konduksi saltatori adalah potensial aksi yang bergerak melompat-lompat
dari nodus ranvier ke nodus ranvier selanjutnya. Konduksi ini memungkinkan
hantaran impuls berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan konduksi pada saraf
yang tidak diselubungi oleh mielin. Pada saraf yang tidak diselubungi mielin
konduksi berlangsung di sepanjang membran akson. Sehingga luas permukaan yang
harus dilewati oleh potensial aksi lebih panjang dan memakan waktu lebih lama
dibandingkan konduksi saltatori.
5. Neuron
local
Neuron tanpa akson
bentukan informasi hanya dengan neuron terdekatnya, oleh karena itu disebut
dengan lokal. Neuron lokal tidak tidak memiliki akson sehingga membuatnya tidak
mengikuti Hukum The All or None. Ketika sebuah nelpon lokal menerima informasi
dari orang lain, Ia memiliki potensi bertingkat, potensi membran yang bervariasi
besarnya sebanding dengan intensitas stimulus. Perubahan potensial membran
menyebabkan segala arah ke daerah sel yang berdekatan. Area sel yang berbeda
ini menghubungkan neuron lain dan merangsangnya atau menghambatnya.
6. Hukum
the all or none
Merupakan prinsip bahwa kekuatan di mana saraf atau serat otot merespon stimulus tidak tergantung pada kekuatan stimulus. Jika stimulus itu melebihi ambang batas potensial, saraf otot akan memberikan respon yang lengkap. Namun jika tidak ada tanggapan ini berlaku untuk seluruh otot rangka bukan hanya untuk saraf otot tunggal.
Anggota Kelompok 4:
- Riska Alkaysa 0603522040
- Aminah 0603522052
- Dafita Tyaga Tsany 0603522054
- Fahira Azra Noor 0603522055
- Firmanda Rhamanisah Hiqma 0603522056
- Lyra Djakiyyah 0603522060
- Thesa Risanda Putri 0603522064
- Kaisyah Aliyyah Hilba Siregar 0603522067

Tidak ada komentar:
Posting Komentar